Tampilkan postingan dengan label TEORI AKUNTANSI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TEORI AKUNTANSI. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 November 2014

HUBUNGAN ANTARA BALANCE SHEET DAN INCOME STATEMENT ACCOUNTS


FASB dalam SFAC Nomor 1 telah menerangkan tujuan utama pelaporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi tentang kinerja perusahaan melalui ukuran pendapatan. Income Statement (Laporan Laba Rugi) merupakan sesuatu yang utama bagi perusahaan terkait ukuran pendapatan.  Income statement memiliki nilai prediktif sesuai karakteristik kualitatif yang didefinisikan dalam SFAC Nomor 2.  Income statement memiliki nilai sebagai ukuran arus kasa masa depan, yakni sebagai ukuran dari efisiensi manajemen dan panduan dalam pencapaian tujuan manajerial.
Di sisi yang lain, investor merupakan fokus utama dalam lingkungan pelaporan keuangan.  Sumber daya investor (current resources) yang digunakan perusahaan untuk memperoleh keuntungan mengandung sifat ketidakpastian atas arus kas masa depan (future-uncertain resources).  Sebagai konsekuensinya, investor dalam kondisi seperti ini memerlukan informasi yang yang dapat membantu mereka untuk menilai arus kas di masa yang akan datang.

Income Statement Elements
FASB menerbitkan SFAC no.6 yang mendefinisikan elemen-elemen income statement sebagai berikut  :
1.      Pendapatan, merupakan arus masuk atau peningkatan aset lainnya dari suatu entitas atau pengurangan kewajiban selama periode tertentu, yang diperoleh dari penjualan barang, penyediaan jasa atau aktifitas lain yang merupakan operasi utama perusahaan.
2.  Keuntungan, merupakan peningkatan aset bersih yang berasal dari transakti peripheral atau insidental suatu entitas dan dari transaksi lainnya, kegiatan lainnya, dan keadaan-keadaan yang mempengaruhi entitas tersebut selama satu periode kecuali yang berasal dari pendapatan atau investasi dari pemilik.
3.      Beban, arus keluar atau penggunaan aset lainnya atau timbulnya kewajiban selama satu periode mulai dari penyerahan atau produksi barang, pemberian jasa atau aktifitas lain yang merupakan operasi utama perusahaan.
4.  Kerugian, penurunan nilai aset bersih yang berasal dari transaksi yang bersifat peripheral atau insidental dari suatu entitas dan dari semua transaksi lain serta dari peristiwa lain dan keadaan-keadaan yang mempengaruhi entitas tersebut selama satu periode kecuali yang termasuk beban atau distribusi kepada pemilik.

Dalam teori akuntansi dikenal dua pendekatan dalam menilai hubungan antara balance sheet dan income statement, yakni articulated dan non-articulated. Pendekatan articulated berarti income statement dianggap sebagai subklasifikasi dari pos modal.  Laba rugi hanya merupakan hasil matematis yang berasal dari perubahan modal dari satu periode ke periode yang lainnya. Dalam pendekatan articulated ada dua konsep, yaitu :
·         Revenue-expense approach.
Dalam konsep ini revenue expense, income statement dianggap laporan yang paling utama dimana semua transaksi dipandang sebagai pos revenue dan expense, semua transaksi dinggap sebagai pengakuan laba (matching), pengukuran laba dan alokasi ke laba rugi.
·         Asset liability approach.
Dalam konsep ini yang dipindahkan ke neraca adalah by product dari hasil pengakuan laba atau matching tadi.  Artinya yang dicatat ke neraca hanya deferred credits (liabilities) dan deferred charges (asset).

Tabel Hubungan Antara Balance Sheet dan Income Statement Accounts

Balance Sheet Item
Revenue
Expenses
Accounts receivable    

Notes receivable (wesel)  

Sekuritas dan investasi

Penjualan

Bunga


Bunga, dividen, keuntungan, pendapatan investee
Piutang tak tertagih

Wesel tak tertagih


Kerugian

Persediaan

Pembelian, harga pokok penjualan, gaji
Property, plant and equip

Aset tak berwujud

Biaya dibayar di muka

Kewajiban yang masih harus dibayar
Sewa, Keuntungan


Royalti
Penyusutan; perbaikan


Amortisasi

Berbagai biaya

Berbagai biaya
Hutang berbunga

Bunga

Selasa, 14 Januari 2014

KONSEP AKTIVA



A. PENGERTIAN AKTIVA MENURUT AHLI
Untuk memahami tentang pengertian aktiva, terdapat beberapa pendapat yang akan dikemukakan antara lain sebagai berikut:
·         Menurut SAK No. 16 tahun 2004 yang dimaksud dengan aktiva adalah sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomis di masa depan diharapkan akan diperoleh perusahaan. Selanjutnya dijelaskan dalam kerangka dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan paragraf 56 bahwa banyak aktiva, modal, aktiva tetap memiliki bentuk fisik. Namun demikian bentuk fisik tersebut tidak esensial untuk menentukan eksistensi aktiva; karena itu, paten dan hak cipta, misalnya, merupakan aktiva kalau manfaat yang diperoleh perusahaan di masa depan dan kalau masing-masing aktiva tersebut dikuasai perusahaan. Dalam menentukan eksistensi aktiva, hak milik tidak esensial jadi misalnya property yang diperoleh melalui sewa guna usaha adalah aktiva jika perusahaan mengendalikan manfaat yang diharapkan dari property tersebut. 
·         Sedangkan pengertian aktiva menurut Scanning (1992; 22): “Aktiva adalah jasa yang akan datang dalam bentuk uang atau jasa mendatang yang dapat ditukarkan menjadi uang (kecuali jasa yang timbul dari kontrak yang belum dijalankan kedua pihak secara sebanding) yang di dalamnya terkandung kepentingan yang bermanfaat yang dijamin menurut hukum atau keadilan bagi orang atau kelompok tertentu tersebut”.
·         Pengertian Aktiva menurut FASB  Statement of Financial accounting Concepts No. 3 (SFAC No. 3) sebagai berikut: “Aktiva adalah manfaat ekonomis mendatang yang mungkin akan diperoleh atau dikendalikan oleh kesatuan ekonomi tertentu sebagai akibat transaksi atau peristiwa yang lalu”.
Pengertian aktiva yang dikemukakan oleh pakar ekonomi sangat beragam, namun pada dasarnya pengertiannya sama yaitu aktiva merupakan sumber daya ekonomi suatu perusahaan yang diukur berdasarkan prinsip akuntansi.

B. KARAKTERISTIK AKTIVA
Aktiva memiliki tiga karakteristik utama yaitu :
1.       Memiliki manfaat ekonomi di masa mendatang
Sesuatu dikatakan sebagai aktiva apabila memiliki manfaat/potensi jasa yang cukup pasti di masa mendatang. Artinya sesuatu tersebut memiliki kemampuan baik secara individu atau bersama-sama dengan aktiva lain untuk menghasilkan aliran kas masuk di masa mendatang. SFAC No.6 menyebutkan bahwa manfaat ekonomi merupakan esensi sebenarnya dari aktiva. Artinya aktiva harus memiliki kemampuan bagi suatu entitas untuk dituklar dengan sesuatu yang lain yang memiliki nilai, atau digunakan untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai atau digunakan untuk melunasi utang. Jadi manfaat ekonomi masa mendatang yang melekat pada aktiva merupakan potensi dari aktiva tersebut untuk memberikan sumbangan, baik langsung maupun tidak langsung, arus kas dan setara kas kepada perusahaan. Praktisnya, manfaat ekonomi tersebut dapat mengalir ke perusahaan dnegan cara seperti (IAI, 1994) :
·         Dapat digunakan baik sendiri maupun bersama aktiva lain dalam produksi barang dan jasa yang dijual oleh unit usaha.
·         Dapat dipertukarkan dengan aktiva lain.
·         Dapat digunakan untuk melunasi hutang.
·         Dapat dibagikan kepada pemilik perusahaan.
Menurut Paton (1962), Aktiva merupakan kekayaan (properties) baik berbentuk fisik atau bentuk lainnya yang memiliki nilai bagi suatu unit usaha. Sedang menurut Sprague (1907), aktiva adalah persediaan atau potensi yang akan diterima atau dinikmati oleh suatu unit usaha. Sedangkan Vatter (1947) mendefinisikan aktiva sebagai manfaat ekonomi masa yang akan datang dalam bentuk potensi jasa yang dapat diubah, ditukar, atau disimpan. APB (1970) dalam statement No.4 memberikan contoh sumber ekonomi perusahaan sebagai berikut
·         Sumber-sumber ekonomi yang produktif,
-          Bahan baku, tanah, peralatan, paten, dan sumber-sumber lain yang digunakan dalam produksi.
-          Hak kontrak untuk menggunakan sumber-sumber ekonomi milik unit usaha lain seperti hak guna bangunan dan sebagainya.
·         Produk, yaitu barang yang siap untuk dijual atau barang yang masih dalam proses produksi.
·         Uang
·         Klaim untuk menerima uang
·         Hak pemilikan pada perusahaan lain
Untuk mengatasi perbedaan tersebut definisi yang mungkin lebih tepat untuk aktiva adalah sebagai sumber-sumber ekonomi yang dapat memberikan manfaat ekonomi di masa mendatang, yang diperoleh/dikendalikan dikuasai oleh unit usaha tertentu sebagai akibat peristiwa transaksi masa lalu (Kam, 1992).
2.       Dikuasai oleh suatu unit usaha
Sesuatu dapat dikatakan sebagai aktiva bila unit usaha tertentu dapat menggunakan manfaat aktiva tersbut dan menguasainya sehingga dapat mengendalikan akses pihak lain terhadap aktiva tersebut. Penguasaan dan pengendalian terhadap suatu aktiva dapat diperoleh suatu unit usaha melalui pembelian, pemberian, penemuan, perjanjian, produksi, penjualan, dan pertukaran.
Perlu diperhatikan bahwa pemilikan bukan merupakan kriteria utama untuk mengakui suatu aktiva. Pemilikan umumnya dibuktikan dengan dokumen-dokumen yang sah menurut hukum terhadap suatu barang. Hal ini disebabkan akuntansi tidak memusatkan pada substansi ekonomi suatu transaksi yang mempengaruhi posisi keuangan atau hasil usaha suatu perusahaan (economic substance over legal form).
Pemilikan hanya merupakan karakteristik pendukung untuk mengakui aktiva karena ada hak yuridis yang pasti untuk menguasainya. Bentuk fisik juga bukan faktor penentu dari aktiva. Misalnya, Paten dan Hak Cipta merupakan aktiva meskipun kedua elemen tersebut tidak memiliki bentuk fisik. Hal ini disebabkan kedua elemen tersebut memiliki manfaat ekonomi di masa mendatang, dikuasai oleh perusahaan dan berasal  dari transaksi masa lalu.
3.       Hasil dari transaksi masa lalu
Suatu unit usaha dapat mengakui suatu aktiva apabila telah menjadi transaksi atau peristiwa lain yang menyebabkan suatu entitas memiliki hak atau pengendalian terhadap manfaat dari aktiva tersebut. Misalnya suatu mesin dapat diklasifikasikan sebagai aktiva apabila mesin tersebut benar-benar telah dibeli dari transaksi yang benar-benar sah. Apabila mesin tersebut baru akan diperoleh sesuai dengan anggaran yang ditetapkan (masih dianggarkan), maka mesin tersebut tidak dapat dipandang sebagai aktiva, karena belum ada transaksi yang dilakukan. Meskipun definisi FASB tersebut dapat diterima secara umum, banyak kritikan yang ditujukan ke FASB. Hal ini disebabkan dalam definisinya, FASB mengabaikan faktor exchangeability, yang artinya suatu pos dapat dipisahkan dari entitas dan memiliki nilai jual yang terpisah. Mac Neal (1939) mengatakan bahwa suatu barang yang kehilangan faktor exchangeability berarti kehilangan nilai ekonomi karena pembelian atau penjualannya tidak memungkinkan untuk dilakukan sehingga tidak ada nilai pasar yang melekat pada barang tersebut.

C. KONSEP PENILAIAN
Penilian aktiva dalam akuntansi adalah proses penentuan jumlah rupiah untuk menentukan makna ekonomi dari suatu aktiva yang akan disajikan dalam Neraca.
1.       Tujuan Penilaian
Adapun tujuan pengukuran/penilaian aktiva adalah sebagai berikut :
·         Sebagai salah satu langkah dalam pengukuran laba
·         Sebagai salah satu langkah dalam proses penyajian posisi keuangan
·         Memenuhi kebutuhan informasi yang ingin dicapai dalam pelaporan keuangan
·         Memenuhi kebutuhan informasi khusus yang memerlukan penilaian untuk kepentingan manajemen.
2.       Dasar Penilaian
Hendriksen (1982) menyebutkan bahwa ada dua jenis nilai pertukaran yang dapat digunakan yaitu nilai keluaran (output values) dan nilai masukan (input values).Nilai keluaran menunjukan aliran dana (kas) yang diperkirakan akan diterima perusahaan dimasa mendatang sesuai dengan harga pertukaran output/produk yang dihasilkan perusahaan. Sedangkan Nilai masukan menunjukan jumlah rupiah yang harus dikeluarkan perusahaan untuk memperoleh aktiva yang akan digunakan dalam kegiatan operasi perusahaan.
a.       Nilai Keluaran
Nilai keluaran didasarkan pada jumlah kas atau penghargaan lain (non kas) yang diterima suatu unit usaha bila suatu aktiva/potensi jasa akhirnya keluar dari unit usaha tersebut karena suatu pertukaran.
·         Discounted Future Cash Receipts or Service Potential
Yaitu nilai sekarang kas masa mendatang yang akan diterima perusahaan seandainya aktiva dijual. Dasar ini dapat digunakan apabila harapan penerimaan kas/setaranya dapat ditaksir cukup pasti dan jangka waktu penerimaan cukup panjang, tetapi saat/tanggal penerimaannya pasti. Konsep penilaian tersebut memerlukan adanya taksiran terhadap jumlah yang akan diterima, faktor diskonto, dan periode waktu penerimaan. Meskipun dasar penilaian ini memiliki validitas dalam penilian bagi investor, namun penerapannya memiliki beberapa kelemahan, terutama bila diterapkan untuk aktiva individual. Alasannya adalah sebagai berikut :
-          Penerimaan kas yang diharapkan umumnya tergantung pada distribusi probabilitas yang bersifat subyektif dan tidak dapat diuji kebenarannya.
-          Meskipun tingkat diskonto dapat diperoleh, tetapi penyesuaian terhadap preferensi diskonto memerlukan evaluasi khusus bagi manajemen dan mungkin sulit diterima oleh pihak-pihak yang berkepentingan.
-          Apabila ada dua faktor atau lebih termasuk sumber daya manusia (yang dianggap sebagai aktiva fisik) memberikan kontribusi pada produk perusahaan yang pada akhirnya menghasilkan aliran kas, namun alokasi yang logis untuk memisahkan faktor potensi jasa secara individu sulit dilakukan.
-          Nilai diskontoan dari aliran kas yang berbeda untuk masing-masing aktiva tidak dapat ditambahkan bersama untuk memperoleh nilai perusahaan secara keseluruhan.
·         Harga Keluaran Sekarang (Current Output Price )
Apabila produk perusahaan umumnya dijual dipasar yang teroganisir, harga pasar sekarang merupakan dasar yang rasional untuk menilai besarnya harga jual di masa mendatang. Ada beberapa kelemahan yang melekat pada dasar penilaian ini. Pertama, dasar penilaian tersebut hanya dapat diterapkan untuk aktiva yang pemiliknya dimaksudkan untuk dijual seperti persediaan, surat berharga, peralatan dan tanah yang tidak memiliki manfaat lagi untuk kegiatan operasi perusahaan.
Kedua, dasar penilaian ini merupakan pengganti harga jual masa mendatang sehingga relevansi pemakaiannya menimbulkan masalah. Harga jual sekarang menunjukan jumlah yang akan dibayar pembeli dan tidak perlu menunjukan jumlah yang akan dibayar di masa mendatang kecuali dalam keadaan ceteris paribus.
Ketiga, semua aktiva dapat dinilai atas dasar harga jual sekarang, sehingga metode penlaian yang berbeda harus digunakan untuk menilai aktiva yang berbeda pula.
·         Nilai Setara Kas Sekarang (Current Cash Equivalent)
Nilai setara kas sekarang menunjukan jumlah kas atau daya beli umum yang dapat diperoleh dengan menjual setiap aktiva berdasarkan keadaan perusahaan normal. Nilai setara kas sekarang dianggap relevan karena menunjukan kondisi perusahaan dalam hubungannya dengan penyesuaian keadaan lingkungan. Kesulitan utama dari konsep ini adalah perlunya penyesuaian untuk memisahkan pos yang tidak memiliki harga pasar sekarang, misalnya peraltaan khusus yang tidak dapat dijual seperti aktiva tidak berwujud. Kelemahan kedua adalah nilai setara kas sekarang tidak memiliki sifat yang dapat ditambahkan.
·         Nilai Likuidasi (Liquidation Value)
Nilai likuidasi sama dengan harga jual sekarang/nilai setara kas sekarang, dengan perbedaan bahwa nilai keluarannya diperoleh dari kondisi pasar yang berbeda. Nilai Likuidasi hanya digunakan dalam kondisi berikut :
-          Bila produk/aktiva lainnya kehilangan manfaat normal sehingga menjadi usang atau tidak laku dijual.
-          Bila unit usaha merencanakan untuk membubarkan usahanya dalam waktu dekat sehingga tidak dapat menjual seluruh aktiva di pasar yang normal.
b.      Nilai Masukan
Nilai masukan dapat menunjukan nilai maksimum perusahaan atau produk perusahaan tidak memiliki harga pasar sehingga tidak mungkin untuk memperoleh nilai keluaran. Dasar penilaian yang dapat digunakan untuk nilai masukan adalah sebagai berikut :
·         Cost Historis
Cost menunjukan semua pengorbanan ekonomi dalam bentuk unit moneter yang dikeluarkan dalam rangka memperoleh barang/jasa sampai siap digunakan untuk operasi perusahaan. Kebaikan konsep ini yaitu bahwa cost dapat diuji kebenarannya (verifiable), karena merupakan harga kesepakatan antara pembeli dan penjual dalam kondisi yang bebas. Kelemahan utama dasar penilaian ini adalah bahwa nilai aktiva akan berubah sepanjang waktu sehingga cost tersebut tidak dapat menunjukan nilai yang sebenarnya dari aktiva yang bersangkutan. Kelemahan lain, cost historis tdak menunjukan adanya pengakuan untung atau rugi pada periode tertentu yang benar-benar terjadi.
·         Cost Masukan Terkini (Current Input Cost)
Cost masukan terkini menunjukan harga pertukaran yang harus dikorbankan pada saat sekarang untuk memperoleh aktiva yang sejenis dalam kondisi yang sama. Dasar ini dapat digunakan apabila ada bukti pendukung yang kuat untuk menentukan besarnya cost masukan terkini. Cost masukan terkini menjadi dasar penilaian yang penting terutama dalam penyajian informasi yang menunjukan pengaruh inflasi terhadap perusahaan.
c.       Discounted Future Cost
Dasar penilaian ini menunjukan nilai sekarang pengorbanan ekonomi di masa mendatang seandainya potensi jasa tertentu diperoleh sekaligus pada saat sekarang. Syarat utama digunakannya penilian ini adalah adanya kepastian tentang harga potensi jasa di masa mendatang atau setidaknya dapat ditaksir dengan cukup pasti.
d.      Standart Cost
Cost standar menunjukan cost sekarang dalam kondisi perusahaan beroperasi pada tingkat efisiensi dan kapasitas produksi normal. Dasar penilian ini dapat diterapkan pada persediaan barang jadi dan beberapa fasilitas fisik yang dibangun sendiri. Jumlah rupiah yang akan dicatat untuk suatu potensi jasa adalah jumlah rupiah yang seharusnya terjadi pada kondisi efisien dan kapasitas produksi perusahaan yang diharapkan.
Kelemahan utamanya terletak pada jenis cost standar yang digunakan dan cara untuk menerapkannya. Pemakaian dasar ini nantinya akan menyebabkan aktiva dinilai terlalu rendah karena adanya usaha untuk mengeluarkan cost yang berasal dari inefisiensi dan kapasitas mengganggur.

D. PENGAKUAN AKTIVA
Pengakuan merupakan pencatatan suatu jumlah rupiah ke dalam struktur akuntansi (sistem pembukuan) sehingga jumlah tersebut pada akhirnya akan memperngaruhi posisi keuangan dan hasil usaha perusahaan. FASB (1984) dalam Statement Of Financial Accounting Concepts No. 5 menyatakan pengakuan suatu pos didasarkan pada empat kriteria sebagai berikut :
·         Definisi (Definition)
Suatu Pos akan masuk dalam struktur akuntansi apabila memiliki defini elemen laporan keuangan
·         Keterukuran (Measurebility)
Suatu Pos harus memiliki makna tertentu yang relevan dan dapat diukur jumlahnya dengan reabilitas yang tinggi.
·         Relevansi (Relevance)
Informasi yang terdapat (terkandung) dalam pos tersebut memiliki kemampuan untuk membuat suatu perbedaan dalam keputusan yang diambil pemaki laporan keuangan.
·         Reliabilitas (Reability)
Informasi yang dihasilkan harus sesuai dengan keadaan yang digambarkan atau direpresentasikan, dapat diuji kebenarannya (Verifiable) dan netral.
Penerapan definisi dalam dunia nyata melibatkan sejumlah kondisi yang dinamakan aturan pengakuan (recognized rules). Aturan tersebut diciptakan sesuai keinginan akuntan untuk memperoleh bukti dalam kondisi ketidakpastian. Beberapa aturan secara informal diwujudkan dalam bentuk konversi atau hal lain yang secara formal di rancang oleh badan yang berwenang. Contoh aturan menurut konversi adalah piutang dagang dicatat bila penjualan kredit dilakukan dan peralatan dicatat saat pembelian.Kemudian contoh aturan yang didasarkan pada keputusa badan berwenang adalah Capital Lease. Dalam SFAS No. 13 “Accounting for Lease” disebutkan bahwa kapiltalisasi lease (sewa guna usaha) hanya dilakukan bila salah satu atau lebih kriteria berikut dipenuhi :
·         Adanya Tranfer hak milik kepada pembeli (lessee)
·         Kontrak menyebutkan adanya hak boleh pilih (option) untuk membeli dengan syarat yang menguntungkan pembeli.
·         Jangka waktu leasing 75% atau lebih dari sisa taksiran umur ekonomi pada saat kontrak ditandatangani.
·         Nilai sekarang dari pembayaran sewa minimum sama dengan 90% dari nilai pasar yang wajar dari aktiva yang disewa terhitung sejak kontrak dimulai.
Praktek menunjukan bahwa banyak aturan yang digunakan untuk mengidentifikasi aktiva tertentu yang dapat diuraikan menjadi beberapa kriteria. Oleh karena itu perlu dibuat perbedaan antara aturan/ketentuan pengakuaan (rocognition rules) dengan kriteria pengakuan (rocognition criteria). Aturan pengakuan menunjukan aturan khusus yang digunakan untuk mengindentifikasi aktiva tertentu. Sedang kriteria pengakuan merupakan pedoman umum yang digunakan untuk memformulasikan aturan pengakuan. Ada beberapa kriteria yang diajukan oleh Kam sebagai berikut :
1.       Didasarkan pada hukum
Pengakuan terhadap aktiva tergantung pada konsep legal dari aktiva yang bersangkutan. Kriteria ini berhubungan dengan informasi akuntansi yang relevan dan reliable.
2.       Pemakain Prinsip Konservatif
Prinsip konservatif mensyaratkan perlunya mengantisipasi kerugian dari pada keuntungan.
3.       Makna/Substansi Ekonomi Suatu Transaksi
Apabila suatu transaksi ditinjau dari makna ekonominya telah terjadi, maka suatu pos dapat segera divatat dan dilaporkan dalam laporan keuangan. Kriteria ini dimaksudkan untuk menentukan makna ekonomi dari suatu transaksi yang berhubungan dengan pelaporan informasi yang relevan dengan tetap mempertahankan faktor materialitas.
4.       Kemampuan mengukur nilai aktiva
Jika akuntan tidak dapat mengukur nilai aktiva baik dengan cara arbitree maupun cara lain maka aktiva tersebut tidak boleh dicatat. Keterukuran ini berhubungan dengan reliabilitas informasi.



KONSEP BIAYA


DEFINISI
Secara umum, dapat dikatakan bahwa cost yang telah dikorbankan dalam rangka menciptakan pendapatan disebut dengan biaya. FASB (1980) mendefinisikan biaya sebagai berikut : “Biaya adalah Aliran Keluar (out flows) atau pemakaian aktiva atau timbulnya hutang (atau kombinasi keduanya) selama satu periode yang berasal dari penjualan atau produksi barang, atau penyerahan jasa atau pelaksanaan kegiatan yang lain yang merupakan kegiatan utama suatu entitas”.
IAI (IASC) mendefinisi biaya dalam Standar Akuntansi Keuangan (2002) sebagai berikut : “Beban adalah penurunan manfaat ekonomi selama satu perioda akuntansi dalam bentuk arus keluar atau terjadinya kewajiban yang mengakibatkan penurunan ekuitas yang tidak menyangkut pembagian kepada penanam modal.”
Dari pengertian di atas dapat dilihat bahwa biaya pada akhirnya merupakan aliran keluar aktiva meskipun kadang-kadang harus melalui hutang lebih dahulu.

KARAKTERISTIK BIAYA
Biaya mempunyai dua karakteristik utama yaitu :
1.      Aliran keluar atau penurunan asset
Untuk dapat mengatakan bahwa biaya timbul, harus terjadi transaksi atau kejadian yang menurunkan asset atau menimbulkan aliran keluar asset atau sumber ekonomik. Pemakaian bahan baku untuk pembuatan produk tidak dapat disebut sebagai biaya kalau produk tersebut belum terjual (keluar  dari kesatuan usaha) karena kalau produk belum terjual sebenarnya belum terjadi penurunan asset. Yang terjadi hanyalah perubahan bentuk asset sebagai potensi jasa.
2.      Akibat kegiatan yang membentuk operasi utama yang menerus
Tidak semua penurunan atau konsumsi asset membentuk biaya. Agar menjadi biaya konsumsi tersebut harus berkaitan dengan kegiatan utama atau sentral kesatuan usaha. Perusahaan dianggap ingin mendapatkan dan mengukur laba dengan tepat, harus ada kaitan yang logis antara biaya dan pendapatan       
Selain dua karakteristik utama di atas, terdapat karakteristik lain yang bersifat sebagai konsekuensi, pendukung, atau penjelas.
1.      Kenaikan Kewajiban
Semua badan autoritatif mendefinisi biaya tidak hanya dari sudut penurunan asset tetapi juga dari kenaikan kewajiban. Alasannya adalah agar makna biaya cukup luas untuk mencukupi pula pos-pos yang timbul dalam penyesuaian akhir tahun. Sebagai contoh adalah tarif pengiriman barang oleh perusahaan ekspedisi yang belum dibayar perusahaan. Jasa pengiriman telah dikonsumsi dan menimbulkan pendapatan sehingga biaya harus timbul diikuti dengan kenaikan kewajiban.
2.      Penurunan Ekuitas
Penurunan ekuitas lebih menegaskan pengertian biaya karena tidak setiap penurunan asset mengakibatkan penurunan ekuitas. Misalnya pembagian deviden kas merupakan penurunan asset tetapi tidak dapat disebut sebagai biaya. Jadi, penurunan ekuitas hanya merupakan karakteristik pendukung makna biaya. Hal ini serupa dengan keteridentifikasian terbayar sebagai karakteristik pendukung pengertian kewajiban.

PENGUKURAN BIAYA
Sejalan dengan penilaian aktiva dapat diukur atas dasar jumlah rupiah yang digunakan untuk penilaian aktiva dan hutang. Oleh karena itu, pengukuran biaya dapat didasarkan pada :
1.      Cost historis
Cost historis merupakan jumlah kas atau setaranya yang dikorbankan untuk memperoleh aktiva. Pengukuran biaya atas cost historis, dapat digunakan untuk jenis aktiva seperti : gedung, peralatan dan sebagainya.
2.      Cost pengganti / cost masukan terkini (replacement cost / curent input cost)
Cost masukan menunjukkan jumlah rupiah harga pertukaran yang harus dikorbankan sekarang oleh suatu entitas untuk memperoleh aktiva yang sejenis dalam kondisi yang sama contohnya, penilaian untuk persediaan.
3.      Setara kas (cash equivalent)
Setara kas adalah jumlah rupiah kas yang dapat direalisir dengan cara menjual setiap jenis aktiva di pasar bebas dalam kondisi perusahaan normal. Nilai ini biasanya didasarkan pada catatan harga pasar barang bebas yang sejenis dalam kondisi yang sama. Pos aktiva berwujud biasanya menggunakan dasar penilaian ini.

PENGAKUAN BIAYA
Pada dasarnya cost memiliki dua kedudukan penting, yaitu : (a) sebagai aktiva (potensi jasa) dan (b) sebagai beban pendapatan (biaya). Proses pembebanan cost pada dasarnya merupakan proses pemisahan cost. Oleh karena itu agar informasi yang dihasilkan akurat, bagian cost yang telah diakui sebagai biaya pada periode berjalan dan bagian cost yang akan dilaporkan sebagai aktiva (diakui sebagai biaya periode mendatang) harus dapat ditentukan dengan jelas.
Ada dua masalah yang muncul sehubungan dengan pemisahan cost tersebut yaitu:
1.      Kriteria yang digunakan untuk menentukan cost tertentu yang harus dibebankan pada pendapatan periode berjalan.
2.      Kriteria yang digunakan untuk menentukan bahwa cost tertentu ditangguhkan pembebanannya.
Semua cost dapat ditangguhkan pembebanannya sebagai biaya, apabila cost tersebut memenuhi kriteria sebagai aktiva yaitu :
·         Memenuhi definisi aktiva (memiliki manfaat ekonomi masa mendatang, dikendalikan perusahaan berasal dari transaksi masa lalu).
·         Ada kemungkinan yang cukup bahwa manfaat ekonomi masa mendatang yang melekat pada aktiva dapat dinikmati oleh entitas yang menguasai.
·         Besarnya manfaat dapat diukur dengan cukup andal.
Dari uraian di atas, secara umum dapat dirumuskan bahwa berdasarkan konsep penandingan (matching), pengakuan biaya pada dasarnya sejalan dengan pengakuan pendapatan. Apabila pengakuan pendapatan ditunda, maka pembebanan biaya juga ditunda. Untuk mengatasi berbagai perbedaan pendapat tentang pengakuan biaya, biasanya badan berwenang mengeluarkan aturan tertentu untuk mengakui biaya. IAI (1994), misalnya, dalam Konsep Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan menyatakan :
“Beban diakui dalam laporan rugi laba kalau penurunan manfaat ekonomi masa datang yang berkaitan dengan penurunan aktiva atau kenaikan kewajiban telah terjadi dan dapat diukur dengan andal”. (paragrap 94).

KONSEP PENANDINGAN (MATCHING)
Konsep penandingan adalah konsep yang dimaksudkan untuk mencari dasar hubungan yang tepat dan rasional antara pendapatan dan biaya. Pendapatan merupakan hasil yang dituju perusahaan. Sementara cost yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan tersebut merupakan upaya yang dilakukan perusahaan.
Dalam praktik, ada tiga dasar penandingan yang umum digunakan untuk mencari hubungan antara biaya dengan pendapatan dalam satu periode tertentu. Dasar penandingan tersebut adalah :
1.      Hubungan Sebab Akibat
Dasar yang paling ideal untuk menandingkan biaya dengan pendapatan adalah hubungan sebab akibat. Meskipun dasar ini sulit untuk dibuktikan, namun atas dasar pengamatan yang dilakukan para akuntan menunjukkan bahwa barang/jasa tertentu yang digunakan dalam proses produksi pada akhirnya akan membantu dalam proses menghasilkan pendapatan selama periode tertentu. Oleh karena itu dasar penandingan ini sering disebut dengan penandingan langsung (direct or product matching). Ada beberapa masalah teknis yang timbul apabila penandingan langsung atas dasar produk digunakan sebagai dasar hubungan sebab akibat. Masalah tersebut adalah :
a.      Identifikasi Cost Product
Sesuai dengan konsep penandingan, semua cost produksi harus dibebankan pada produk yang bersangkutan. Cost produk dapat dibagi menjadi dua. Pertama, cost produk yang melekat pada produk terjual dan nantinya akan dibebankan sebagai biaya. Kedua, cost yang melekat pada produk yang belum terjual (dilaporkan sebagai persediaan) dan dicatat sebagai aktiva sampai produk tersebut terjual.
Beberapa cost produk dapat langsung dihubungkan dengan produk tertentu, sementara cost yang lain hanya dapat dihubungkan dengan kegiatan produksi dan dialokasikan pada produk berdasarkan aturan atau prosedur tertentu. Disinilah pentingnya melakukan identifikasi untuk menentukan cost produk langsung (direct product cost) dan cost produk tidak langsung (indirect product cost).
b.      Biaya yang langsung berhubungan dengan pendapatan masa mendatang, tetapi tidak masuk dalam cost produksi
Pada beberapa kasus, cost yang dapat dihubungkan dengan pendapatan masa mendatang tidak dapat dibebankan secara langsung dengan produk tertentu. Hal ini disebabkan cost tersebut tidak menunjukkan nilai tambah pada produk yang bersangkutan. Contoh dari kasus ini adalah biaya penjualan dan administrasi.
Biaya penjualan dan administrasi tidak harus ditandingkan dengan pendapatan di masa mendatang jika tidak ada jaminan yang rasional untuk menghubungkan biaya tersebut dengan pendapatan di masa mendatang. Meskipun jenis biaya tersebut tidak secara langsung menghasilkan pendapatan karena secara teknis sulit mencari hubungan sebab akibatnya, namun biaya tersebut harus tetap dibebankan sebagai biaya.
Tidak diperolehnya pendapatan atau tidak adanya kemungkinan rugi pada periode berjalan, bukan merupakan alasan untuk menunda pembebanan biaya. Alasannya adalah apabila suatu cost barang dan jasa tidak memberikan manfaat pada periode sekarang dan juga bukan merupakan rugi, maka cost tersebut tentu akan memberikan manfaat masa mendatang. Oleh karena itu, cost tersebut harus dialokasikan pada periode mendatang agar dapat dilakukan penandingan antara biaya dengan pendapatan.
Namun demikian, apabila tidak ada hubungan khusus antara pendapatan dan biaya, maka proses penandingan tidak dapat dilakukan. Konsekuensinya, tindakan menangguhkan pembebanan cost tersebut pada akhirnya akan menyebabkan perataan laba dan tidak menambah manfaat informasi yang dihasilkan.
c.       Biaya yang langsung berhubungan dengan pendapatan masa mendatang, tetapi tidak masuk dalam cost produksi
Pada beberapa kasus, cost yang dapat dihubungkan dengan pendapatan masa mendatang tidak dapat dibebankan secara langsung dengan produk tertentu. Hal ini disebabkan cost tersebut tidak menunjukkan nilai tambah pada produk yang bersangkutan. Contoh dari kasus ini adalah biaya penjualan dan administrasi.
Biaya penjualan dan administrasi tidak harus ditandingkan dengan pendapatan di masa mendatang jika tidak ada jaminan yang rasional untuk menghubungkan biaya tersebut dengan pendapatan di masa mendatang. Meskipun jenis biaya tersebut tidak secara langsung menghasilkan pendapatan karena secara teknis sulit mencari hubungan sebab akibatnya, namun biaya tersebut harus tetap dibebankan sebagai biaya.
Tidak diperolehnya pendapatan atau tidak adanya kemungkinan rugi pada periode berjalan, bukan merupakan alasan untuk menunda pembebanan biaya. Alasannya adalah apabila suatu cost barang dan jasa tidak memberikan manfaat pada periode sekarang dan juga bukan merupakan rugi, maka cost tersebut tentu akan memberikan manfaat masa mendatang. Oleh karena itu, cost tersebut harus dialokasikan pada periode mendatang agar dapat dilakukan penandingan antara biaya dengan pendapatan.
Namun demikian, apabila tidak ada hubungan khusus antara pendapatan dan biaya, maka proses penandingan tidak dapat dilakukan. Konsekuensinya, tindakan menangguhkan pembebanan cost tersebut pada akhirnya akan menyebabkan perataan laba dan tidak menambah manfaat informasi yang dihasilkan.
2.      Alokasi Sistematis dan Rasional
Alokasi sistematik dan rasional sering disebut dengan dasar penandingan periodik (period matching) atau penandingan tidak langsung (indirect matching). Alokasi sistematik dan rasional dapat digunakan sebagai dasar penandingan apabila dasar penandingan hubungan sebab akibat tidak dapat dilakukan. Atas dasar konsep penandingan ini, ukuran penandingan yang digunakan bukan produk (unit fisik) tetapi periode.
Apabila manfaat cost suatu aktiva lebih dari satu periode, maka cost tersebut dialokasikan secara sistematis pada periode yang menikmati manfaat tersebut. Depresiasi aktiva tetap merupakan contoh alokasi sistematis. Masalah yang sering muncul dalam alokasi ini adalah banyaknya metode alokasi yang dapat digunakan dalam proses alokasi cost. Depresiasi dapat menggunakan metode alokasi seperti garis lurus, output produksi, jumlah angka-angka tahun dan sebagainya.
Meskipun dapat menimbulkan masalah, alokasi sistematis tetap dapat digunakan sebagai dasar penandingan. Ada beberapa alasan yang mendukung pemakaian alokasi sistematis dan rasional :
a.      Banyak cost periodik yang berhubungan secara tidak langsung dengan pendapatan periode berjalan.
b.      Pada beberapa kasus sulit mencari hubungan langsung antara cost tertentu dengan pendapatan.
c.       Apabila manfaat masa mendatang tidak dapat diukur dengan cukup pasti atau cost yang dikeluarkan tidak memiliki hubungan dengan pendapatan di masa mendatang, maka tidak ada alasan untuk menunda pembebanan cost sebagai biaya pada periode terjadinya.
d.      Apabila biaya bersifat rutin (reguler) dan terjadi berulang-ulang, maka pembebanan langsung secara material tidak akan berpengaruh terhadap laba bersih, meskipun penandingan yang tepat tidak dapat dicapai.
e.      Apabila cost tersebut merupakan joint-cost, maka alokasi arbitrer harus dilakukan pada kegiatan yang berbeda.
3.      Pembebanan Segera (Immediate Recognition)
Apabila tidak ada alasan yang kuat untuk membebankan cost atas dasar hubungan sebab akibat ataupun alokasi sistematis dan rasional, maka cost langsung dapat dibebankan pada periode terjadinya. Alasan yang melandasi pembebanan dengan cara ini adalah kepraktisan. Misalnya, pencatatan terhadap biaya advertensi.
Cost yang dikeluarkan untuk kegiatan advertensi sulit untuk dihubungkan dengan pendapatan atas dasar hubungan sebab akibat. Di samping itu, cost tersebut kemungkinan memiliki manfaat lebih dari satu periode akuntansi.

Dalam statement FASB No.2 yaitu Accounting for Research and Development Cost disebutkan bahwa dasar penandingan hubungan sebab akibat dan alokasi sistematis tidak dapat diterapkan untuk cost penelitian dan pengembangan. Hal ini disebabkan manfaat penelitian dan pengembangan di masa mendatang tidak dapat ditentukan dengan tepat, karena itu cost tersebut tidak dapat dikapitalisasi dan dicatat sebagai aktiva. Cost tersebut langsung dibebankan sebagai biaya pada periode terjadinya.